Halal bi halal Dalam Idul Fitri dan Meleburkan Egois
Halal bi halal Dalam Idul Fitri dan Meleburkan Egois
Oleh : Rovel Rinaldi, SHI., MH
Kasubbag Umum dan Keuangan Pengadilan Agama Sengeti
Idul Fitri sebagai kembali pada kesucian. Suci berarti bersih dari segala dosa, kesalahan, dan keburukan. Dengan kata lain, Idul Fitri berarti kembalinya seseorang ke dalam keadaan suci atau terbebas dari segala dosa, kesalahan, dan keburukan. Secara harfiah, Idul Fitri berarti hari raya atau perayaan berbuka puasa. Idul Fitri merupakan momen agung bagi umat Islam yang dirayakan dengan gema takbir, tasbih, tahmid, dan tahlil. Pada saat Idul Fitri umat Islam dianjurkan atau disunahkan menggunakan pakaian baru dan menyantap makanan lezat. Namun, makna Idul Fitri bukan sekadar merayakannya dengan pakaian batu itu, tetapi meningkatkan derajat kualitas keimanan, kesalehan, dan ketakwaan. Dalam momentum idulfitri di Indonesia ada tradisi yang Namanya Halal Bi Halal.

Halal Bi Halal dalam Islam sering dicari saat momen Lebaran tiba. Tradisi ini identik dengan saling memaafkan dan mempererat silaturahmi setelah Idulfitri. Menariknya, halal bi halal merupakan tradisi khas Indonesia dan tidak dikenal di negara Muslim lainnya. Halal bi halal bukan sekadar acara kumpul keluarga atau reuni setelah Lebaran. Tradisi ini memiliki makna mendalam, terutama bagi Muslim. Dalam hukum fikih, halal bi halal dimaknai sebagai upaya menjadikan sesuatu yang sebelumnya berdosa menjadi tidak berdosa lagi.
Artinya, jika sebelumnya ada kesalahan, pertengkaran, atau sikap yang menyakiti orang lain, maka melalui saling memaafkan dengan tulus, dosa tersebut dapat dihapus. Namun, hal ini baru benar-benar terjadi jika kedua pihak sama-sama ikhlas dan lapang dada.
Diantara nilai yang diperoleh dari tujuan berpuasa Ramadhan yakni takwa yang Kembali kepada fitrah, dan egoism merupakan bagian dari nilai keAKUan yang wajib melebur dalam nilai ketakwaan. Egoisme adalah pandangan atau perilaku yang terlalu mementingkan diri sendiri, kebutuhan, dan keinginan pribadi. Seringkali, individu dengan sifat egois mengabaikan kepentingan atau perasaan orang lain. Istilah ini berasal dari bahasa Latin “ego” yang berarti “saya”, dan “isme” yang menunjukkan suatu paham atau perilaku.
Secara umum, egoisme ditandai dengan kurangnya empati, kesulitan menerima kritik, dan kecenderungan untuk selalu ingin menang sendiri. Berbeda dengan bentuk self-love yang sehat, egoisme yang berlebihan dapat merugikan hubungan interpersonal dan memicu berbagai konflik. Pemahaman mendalam tentang egoisme penting untuk menjaga keseimbangan dalam interaksi sosial dan kesehatan mental.
Egoisme merupakan sifat yang membuat seseorang berfokus secara eksklusif pada kesejahteraan pribadi. Ini adalah suatu kecenderungan di mana individu menempatkan diri mereka sebagai pusat dari segala keputusan dan tindakan. Perilaku ini sering kali datang dengan konsekuensi negatif bagi lingkungan sekitar.
Definisi egoisme mencakup aspek psikologis dan etis. Dalam konteks perilaku, egoisme menunjukkan preferensi kuat terhadap pemenuhan kebutuhan dan keinginan pribadi. Hal ini dapat termanifestasi dalam berbagai aspek kehidupan, dari interaksi sehari-hari hingga pengambilan keputusan penting.
Dalam pergaulan sosial, individu yang hanya fokus kepada kebutuhannya sendiri lambat laun akan diliputi perasaan sengsara, dan tanpa daya. Karena, sejatinya manusia adalah makhluk sosial. Ia tidak bisa hidup sendiri. Manusia memiliki kebutuhan untuk bersosialisasi dengan sesamanya.
Hakekat Manusia adalah mahluk yg bergantung satu sama lain, surat al-Hujurat ayat 13 :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS. Al-Hujurat: 13).
Allah di dalam Al-Quran surat Al-alaq ayat ke : 2 menerangkan Manusia di ciptakan dari sesuatu yg bergantung (al-alaq 2) Allah mentakdirkan manusia sebagai mahluk yang sejak awal kehidupannya selalu bergantung kepada lainnya, karena manusia tidak di ciptakan untuk sendirian melainkan membutuhkan lainnya.
Pada proses penciptaan manusia, sel telur pada wanita tidak akan berproses sebelum adanya kehadiran zygot (laki-laki). Ini menggambarkan betapa manusia sejak awal sangat membutuhkan lainnya terbukti dalam masa awal proses kejadian manusia, begitupun untuk menjalankan kehidupan lainnya, inilah disebut manusia sebagai mahluk social.
Jika kita mau berfikir sejenak kebutuhan akan makannya pun manusia membutuhkan orang lain mulai dari pengadaan nasi sampai kepada lauk pauknya semua di hasilkan atas bantuan orang lain.
Mengenali tanda-tanda egoisme pada diri sendiri atau orang lain dapat membantu dalam mengelola interaksi sosial. Perilaku egois seringkali menunjukkan pola yang konsisten.
Berikut adalah beberapa contoh sifat egois yang umum terlihat:
- Kurang empati atau tidak mampu merasakan dan memahami perasaan orang lain.
- Tidak mau mendengarkan pendapat orang lain dan cenderung memaksakan kehendak.
- Sulit meminta maaf, bahkan ketika jelas melakukan kesalahan.
- Sering menyalahkan orang lain atas masalah atau kesalahan yang terjadi.
- Prioritas utama selalu diri sendiri, tanpa mempertimbangkan dampaknya pada orang lain.
- Mengambil keputusan tanpa berkonsultasi atau mempertimbangkan perasaan orang yang terlibat.
Tanda-tanda ini bisa menjadi indikator adanya kecenderungan egois yang perlu diperhatikan.
Sikap egois yang berlebihan dapat memiliki dampak serius terhadap berbagai aspek kehidupan. Hubungan asmara, persahabatan, dan lingkungan kerja adalah beberapa area yang paling rentan.
Dampak negatif dari egoisme meliputi:
- Merusak hubungan asmara: Egoisme dapat menyebabkan ketidakseimbangan, kurangnya timbal balik, dan perasaan tidak dihargai oleh pasangan.
- Memicu konflik: Kecenderungan untuk ingin menang sendiri dan kurangnya kompromi seringkali berujung pada pertengkaran dan perselisihan.
- Menjauhkan hubungan sosial: Orang lain mungkin merasa lelah atau dimanfaatkan, yang menyebabkan mereka menjauhi individu yang egois.
- Kesulitan membangun kerja sama: Dalam konteks tim atau organisasi, egoisme menghambat kolaborasi dan pencapaian tujuan bersama.
Pada intinya, egoisme seringkali dianggap sebagai lawan dari altruisme, yaitu tindakan yang mengutamakan kepentingan orang lain.
Oleh karena itu dalam momentum Idul Fitri 1447 Hijriah ini kita Kembali suci meleburkan diri kepada keinginan Allah SWT, meleburkan keAKUan atau egois mementingkan diri sendiri tanpa peduli atau simpati pada orang lain.
Referensi :
- https://www.kompas.com/stori/read/2023/04/21/100000179/arti-dan-makna-idul-fitri
- https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8421318/arti-halal-bi-halal-dalam-islam-lengkap-dengan-tujuan-dan-sejarahnya
- https://www.halodoc.com/artikel/egoisme-adalah-pahami-ciri-dan-cara-mengatasi